Jumat, 02 Januari 2015

Channel Kuliner Asia

AFC adalah salah satu program televisi channel Indovision yang sering kami lihat tayang di televisi akhir-akhir ini. Hampir semua anggota keluarga di rumah menyukai siaran kuliner ini. Kenapa? Karena di channel ini semua program menyajikan kuliner Asia dalam bentuk proses masak yang menarik dan dengan chef yang cantik dan cakap. Hal ini pula yang menyebabkan kami di rumah sangat menikmati semua acara yang disajikan di channel ini.
Yang menjadikan channel ini menarik adalah beberapa program disajikan dalam bahasa Melayu. Hal ini mengakibatkan kami bisa dengan jelas memahami bahasa yang masih serumpun ini. Selain itu bahan-bahan yang dipakai adalah bahan-bahan yang biasa kami temui di Indonesia. Artinya semua hampir semua bahan bahan masakan yang digunakan adalah sama. Kita bisa menemui dengan mudah bahan tersebut.
Salah satu chef favorit saya adalah Ana Olson, seorang chef pastry yang sangat berpengalaman. Ana sudah melanglang buana berbagi ilmunya tentang kue-kue. Sekali-sekali dia juga masak masakan untuk lunch, dinner dan sudah pasti kue-kue lezat. Ana seorang chef yang sangat teliti menurut saya. Tiap tindakan yang dia lakukan pasti dibarengi dengan penjelasan yang teoritis. Ilmunya benar-benar mapan  secara akademik. Ini yang membedakan cara dia memasak dengan French Food at home. Meskipun sama-sama berpengalaman, Ana lebih banyak menjelaskan teori daripada sekedar pengalaman memasaknya.
Yang banyak menyita perhatian saya adalah berbagai program dari AFC itu sendiri yaitu shooting-shooting yang dilaksanakan di Malaysia dan Singapura. Seperti kita ketahui di Malaysia dan Singapura, bahasa yang dominan diucapkan di kedua negara ini adalah Melayu, China (Kanton) dan Inggris. Itulah kemudian tiga bahasa ini saling mempengaruhi dan meminjamkan (borrowing and loan words). Disamping itu para penutur bahasa di dua negara tetangga ini juga seringkali menerapkan code switching dan mixing ketiga bahasa dominan itu. Apabila ada kesamaan bahasa di Indonesia berarti kata-kata tersebut adalah bahasa Melayu. Mungkin karena ratusan bahasa lokal yang mendominasi budaya dan bahasa di Indonesia menyebabkan bahasa Melayu ini hanya dipergunakan di sebagian propinsi saja, seperti misalnya di Sumatra.
Mereka yang berasal dari daratan China terutama di lokasi penting di daratan super luas ini yaitu Teochew. Rupanya dulu terjadi migrasi besar-besaran dari negeri ini menuju seluruh tempat di dunia. Terutama di semenanjung Melayu. Hingga kemudian bahasa Mandarin sangat mempengaruhi kehidupan berbahasa di dua negara ini. Salah satu presesnter favorit saya Jason Yeoh dengan fasih berbicara dalam tiga bahasa ini. Saat dia berada di Bali, Jason juga dengan santai ngobrol dengan seorang ibu dengan menggunakan bahasa Melayu yang jelas dan mudah dipahami.
Kebudayaan China Teochew sangat besar memberikan dampak dan kontribusi kepada kegiatan budaya sehari-hari di dua negara. Bahasa Inggris yang sebenarnya sudah mulai menipis di Malaysia sebenarnya masih dipakai aktif di beberapa lokasi tempat. Mungkin saat anda menonton program kuliner milik TV AFC, Makan Angin, anda akan mendapat gambaran yang mencengangkan tentang suku Bugis yang juga dominan berada di negeri Malaysia. Maka tak ayal presenter Makan Angin mengucapkan salam khas Bugis 'Aga Kareba'. Dan saat itu hidangan yang disajikan oleh sebuah keluarga Bugis di Malaysia adalah juga hidangan khas dari daratan Sulawesi Selatan.
Para presenter dan host acara kuliner dari seluruh penjuru dunia yang programnya ditayangkan di AFC ini kebanyakan dari negeri-negeri berbahasa Inggris (English Speaking Country). Namun demikian hubungan antara presenter dengan station TV AFC benar-benar dijaga layaknya program tersebut adalah produksi dari AFC. Sebenarnya para host tersebut seperti hanya mengirimkan file atau DVD nya saja untuk ditayangkan. Namun demikian, sesekali ternyata mereka membuat clip-clip unik yang mempromosikan Channel Kuliner terkenal ini, AFC.
Ana Olson memang pernah diundang untuk demonstrasi masak di Singapura dan Indonesia. Naamun ada juga salah satu chef, host sebuah program kuliner, Nigella Bite, yang belum pernah menyentuh sisi-sisi promosi chanel TV AFC ini, sempat menyebutkan bahwa dia menyukai sambal-sambal di seluruh dunia. Salah satunya yang saya sempat kaget saat melihat adalah kesukaannya pada sebuah produk sambal dalam botol dengan nama produk 'Sambal Oelek'. Ini benar-benar sambal khas Indonesia. Nigella menyebutkan bahwa salah satu bahan ingredients dalam sambal oelek ini adalah terasi. Benar-benar sangat mengIndonesia. Terasi memang sangat lezat dimix dengan cabe dan tomat. Tapi mungkin kita tidak tau bahwa terasi juga bisa ditemukan di semenanjung Melayu yang dalam bahasa Melayu disebut dengan belacan. Di sebagian daerah di Indonesia bagian Timur, terasi juga disebut belacan atau balacang. Bahasa Melayu memang juga mempengaruhi bahasa di masyarakat Indonesia Bagian Timur.
Di Singapura  juga bisa ditemukan tumis kangkung, seperti yang sering disajikan di beberapa program. Tumis kangkung ala Melayu ini bahkan masih asli mempergunakan terasi sebagai salah satu bumbunya dan udang sebagai bahan campurannya. Di Indonesia tumis kangkung sudah menjadi kegemaran masyarakat dari kalangan bawah sampai atas. Mungkin karena mahalnya bahan udang sehingga kebanyakan masakan tumis kangkung ini tidak disertai dengan udang sebagai campurannya, pun terasi.
Ada beberapa kata-kata yang memiliki persamaan dari beberapa rekaman-rekaman yang sudah saya dokumenkan, yaitu kata-kata  yang dipergunakan di dalam istilah-istilah kuliner di ketiga negara ini termasuk Indonesia sebagai salah satu pengguna bahasa Melayu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar