Senin, 05 Januari 2015

Seputar Fastival Budaya

Seputar Festival Budaya Fakultas Humaniora


Hari ini 3 Desember dari sejak pagi tadi halaman Student Centre riuh riang dipenuhi oleh mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya dari ketiga jurusan, Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Pendidikan Bahasa Arab. Khususnya mahasiswa di awal tahun berada di kampus ini, mereka mendapat kesempatan untuk menjadi peserta Festival Budaya. Bagi mahasiswa2 mancanegara yaitu dari Thailand dan Madagaskar merekapun tak luput bisa untuk memeriahkan Festival ini dengan menyuguhkan kekhasan dari negara masing2. Inilah laporannya.


Diawali dengan kelompok jurusan apa saya kebetulan tidak melihat papan nama jurusan disini. Mungkin jurusan sesuatu..hehe. (ikutan Syahrini). Mereka mempersiapkan menuk rujak ulek khas Jawa Timur. Yang membuat beda dengan kelompok yang lain bahwa mereka berani tampil fresh menawarkan menu yang diolah saat itu pula. Ini juga yang saat ini menjadi tren yaitu dapur terbuka. Artinya pembeli bisa melihat proses membuat makanan tersebut. Dan hal seperti ini membuat nilai jual makanan tersebut menjadi tinggi. Rasa akhirnya menjadi nomor 2 karena orang sudah tidak lagi mengingat rasanya, orang hanya mengingat proses. Dan rujak ulek ini sungguh nikmat dan cantik karena saya juga sudah merasakan sedikit..hehe..


Dari kelompok Papua, mahasiswa menyuguhkan tradisi sebuah daerah yang katanya hampir lepas dari Indonesia ini. Tapi itu tidak menyurutkan mereka untuk berkreasi cantik Toh semua resep2 saat ini bisa dengan mudah didapat melalui Google. Ada ikan bakar khas Papua yang memang sangat digemari disana. Masyarakat Papua seringkali menggunakan batu sebagai bahan bakar. Artinya Batu itu harus dibakar dulu dengan mempergunakan kayu. Maka sisa panas pada batu inilah yang dipakai untuk membakar ikan atau ubi singkong dll. Mereka juga menyajikan makanan khas selain ikan bakar yaitu Papeda. Wah untung saya tidak ditunjuk sebagai juri. Kalau saya jadi juri bisa kacau nanti. Hal ini beralasan karena Papeda adalah makanan khas daerah kelahiran orang tuaku. Sayapun biasa menyantap menu khas ini. Papeda adalah salah satu genre makanan utama dari Indonesia bagian Timur.Papeda yang sebenarnya adalah terbuat dari tepung sagu yang dimasak dengan mempergunakan air panas. Bentuknya hampir menyerupai lem. Tapi Papeda yang saya temui di kelompok Papua ini adalah terbuat dari hunkwe. Dan parahnya makanan khas Papua ini diguyur dengan air gula merah. Dan Voila! Jadinya seperti dawet Jepara! Owalahh.. Tapi salut jempol saya berikan pada mereka yang dengan berani2 nya menyuguhkan Papeda dimana semua orang normal pasti mengira makanan ini adalah lem. Hehe..


Kelompok Jawa Tengah atau Yogyakarta menampilkan warisan kebudayaanya berupa Performance mereka dengan memakai busana khas Jawa Tengah. Yang cowok memakai beskap dan blangkon dan yang cewek memakai kebaya. Mungkin lebih cenderung ke busana nasional daripada ke Jawa Tengah secara khusus. Untung saja mereka tidak menampilkan baju adat basahan atau off shoulder. Wah bisa gawat nanti. Mentang2 suhu udara panas banget dibawah terob seng yang hitam itu. Mungkin masukan aja, sepertinya lebih nyaman kalau festival diadakan didalam gedung Student Centre. Mengingat disamping cuaca cukup panas, saat ini cuaca juga ekstrim Tau2 mendadak hujan. Bukan mendadak dangdut. Tapi Gudeg Yogyakartanya sangat cantik sekali warnanya. Tapi saya yakin lidah masyarakat Jawa Timur sudah sangat banyak mempengaruhi. Jadi sudah tidak terlalu manis lagi. Di luar itu ok banget itu Gudeg. Pengen lagi tapi koq disediakan cuma sedikit. Ouww..



Mahasiswa Thailand pun tak mau kalah. Masakan khas Thailand Tom Yam Kung yang sudah mendunia dan sudah dinobatkan sebagai makanan paling lezat di dunia setelah nasi goreng ini ditampilkan oleh mahasiswa Thailand. Dan pemilihan udang pun mereka cukup ideal karena udang untuk masakan dengan genre sup ini dibelah punggungnya tidak sampai putus dan dibiarkan mekar begitu saja. Inilah salah satu kekhasan masakan Thailand yang ternyata mirip sekali dengan masakan2 Melayu yaitu lebih ke sup berasa asam. Mereka juga menampilkan Loi Krathong. Loi artinya mengapung dan Krathong artinya gelas yang terbuat daun pisang. Dan orang Thailand khususnya Hindu selalu membuat ini untuk semacam sesembahan di kegiatan ritual. Salut mahasiswa Thailand. Bahasa Indonesia mereka sangat cakap.








Dan hopla..!  Inilah mahasiswa yang menampilkan kekhasan daerah Bangka Belitung. Ada miniatur rumah2 adat yang cukup pusing juga melihatnya, apalagi bikinnya. Rumah2 dengan gaya arsitektur khas Babel ini dibuat khusus oleh mahasiswa jurusan bahasa Inggris. Dan belum lagi ada miniatur kolam dimana disana ada musium, perpustakaan dan macam2 yang lain. Rupanya mahasiswa ingin menampilkan indahnya bawah laut Babel yang bisa mengalahkan Wakatobi. Wah catat itu! Ada ikannya..beneran! Dan baru tahu kalau di Babel ada cuimi khas. Kirain cuma di Malang. Penampilannya sungguh menggiurkan. Martabaknya pun ok.


Dan mahasiwa Madagaskar menjadi penarik pengunjung karena menampilkan sesuatu. Cie sesuatu..! Mereka memperlihatkan budaya yang kita tidak pernah lihat sebelumnya. Si mbak2 manis memakai busana tradisional khas Madagaskar..lebih mirip seperti istri Presiden Zimbabwe. Batik nya khas dan cantik. Demikian juga dengan makanan khas yang mereka tampilkan. Banyak mahasiswa berkerumun di kelompok Madagaskar. Mereka bilang mau nambah gizi. Masakan2 khas berbahan daging sapi tak ayal menjadi santapan yang jarang2 sehingga jadi pengen rebutan mau ngicipi. Ada bakso khas Madagaskar dan ada semacam semur daging. Masakan yang lain adalah Seperti salad khas Madagaskar berwarna merah pink yang bahan dasarnya adalah telur, ayam dan saus tomat.



Disamping bagian Utara yang belum kulihat ada budaya Betawi yang menampilkan khas Betawi adalah jengkol. Tapi karena mereka kesulitan menemukan jengkol, atau pada nggak mau masak jengkol takut bersisa dan mubadzir..walhasil mereka membuat Tumis Teri Pete. Dan setelah kucicip sedikit...hmpft..pedesnya naudzubilahhh. Dan Ketoprak nya memang menggiurkan. Jadi sempat kubeli sebungkus buat suami dirumah. Mereka bilang Ketoprak asal Betawi, yang sebenarnya sudah menjadi makanan khas Sunda Jawa Barat sebenarnya. Suamipun ikut merasakan Ketoprak Betawi ini dan dia bilang henak jugak. Maklum gratis.. Terakhir sempat kuambil gambar rangkaian buah Bali di kelompok Balinese ini. Jauh2 mereka mengupayakan sampai dikirim dari Bali bunga2 kamboja melalui bis Gunung Harta. Jadi bunga2 itu pun sampai di Malang masih lumayan fresh. Rangkaian buah Bali ini harap dimaklumi karena buah2 juga tidak murah, maka walhasil inilah jadinya, ada tempelan kue2 kukus dibungkus plastik. Haha baru tau kali ini..

Dan akhirnya saya ucapkan SALUTT.. buat mahasiswa Humaniora dan Budaya. Jempol dua. Standing aplos..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar