Apa sebenarnya yang selalu didengung-dengungkan orang mengenai
World Heritage? Banyak pula yang ingin mengklaim bahwa sesuatu itu
adalah warisan dunia. Ada world heritage yang diumumkan secara resmi
oleh UNESCO seperti contoh Lontara Galigo yang akan saya paparkan di
bawah ini. Sayapun sebenarnya belum lama mendengar istilah ini, bahkan
mendengarnya pun baru akhir-akhir ini. Namun kemudian setelah beberapa
kali saya baca di internet dan di pementasan dan pameran, saya menjadi
penasaran terutama tentang sebuah manuskrip berjudul I La Galigo.
Manuskrip yang kabarnya melebihi panjang cerita Mahabarata dan Ramayana.
I La Galigo naskahnya ditulis pada lembar demi lembar daun lontar.
Lontar inilah kertas karya pertama dan teknologi perdana penulisan di
daratan SULSEL. Daun lontar benar-benar membawa informasi yang cukup
penting pada pembacanyanya saat itu, karena daun lontar lah para
penulis-penulis kreatif purba menciptakan sebuah epos tanpa batas yang
bias dinikmati oleh semua orang saat ini. Hurufnya pun demikian,
Lontarak disebutnya. Manuskrip I La Galigo yang menceritakan kehidupan
romansa Sawerigading dan We Cudai tersebut berdurasi cukup panjang
hingga ibu Nurhayati Rahman baru menginterpretasikan sekelumit dari
ribuan lembar lontar bertema cinta itu, itupun belum selesai. Masih ada
ribuan lembar lagi yang belum diotak-atik oleh beliau.
Daun
lontar yang sangat terkenal ini telah dipergunakan ratusan tahun oleh
para author kisah epos ternama. Struktur daun inilah yang mampu merekam
ribuan kalimat kisah epos I La Galigo. Daun lontar sebagai bagian dari
teknologi kertas pertama di bumi Sulsel memiliki karakteristik unik
karena bisa berumur panjang. Meski tak sesempurna kertas di zaman
sekarang, daun lontar ini telah banyak berjasa saat itu. Keahlian para
sastrawan Sulawesi untuk mengolah kata menjadi sebuah epos terhebat
tersebut sepertinya telah menginspirasi para penulis penulis masa kini
asal Sulsel. Tak heran kebanyakan sahabat-sahabatku asal Sulsel adalah
penulis kreatif yang tak habis-habis berkarya. Ternyata memang I La
Galigo inilah yang telah mengawalinya.
Beberapa
kisah lanjut setelah I Lagaligo diinterpretasikan kemudian menyelimuti
perjalanan dikenalnya Epos ini sebagai World Heritage atau salah satu
warisan dunia. Beberapa waktu lalu diadakan pameran Naskah Nasional,
daun lontar yang bertuliskan huruf-huruf lontarak di Yogyakarta.
Beberapa kisah unik mewarnai pelaksanaan pameran tersebut. Naskah yang
berumur cukup lama ini memang ribet memindahnya dari gedung Arsip
Nasional Makassar menuju Yogyakarta. Ada 12 orang yang mengawal
berpeti-peti naskah lontarak yang berisikan tidak hanya bagian dari
epos, namun juga berisi tentang resep-resep obat/jamu, kehidupan
bermasyarakat, peraturan-peraturan pemerintahan di masa lampau dan
lain-lain. Peti berisi naskah-naskah tersebut dijaga dan dibawa dengan
cukup hati-hati oleh 4 staf, 1 polisi, 3 satpam, dan 6 pejabat arsip
nasional. Benar-benar satu usaha yang cukup berat. Setibanya di bandara
bisa dibayangkan kenapa mereka membawa polisi dan satpam untuk
mengamankan barang-barang berharga ini. Nah kalau tau-tau ada huru hara,
lalu menyerang, bagaimana coba? Tapi syukurlah saat memindahkan
naskah-naskah tersebut dari Makassar ke Yogyakarta dan sebaliknya tidak
terlalu merepotkan. Namun saat check in sempat ditanya dan diperintahkan
untuk dibagasikan ke empat tas-tas besar tersebut.
Apa
yang terjadi saat petugas bandara menyarankan untuk memasukkan tas-tas
tersebut ke dalam bagasi? Sudah jelas para staf arsip nasional Makassar
mengelak. Mereka bilang mending kami yang masuk bagasi dari pada naskah
ini yang disimpan disana. Petugas bandara Sultan Hasanuddin pun
mengernyit. Sesampai di dalam pesawatpun masih disarankan untuk
diletakkan di kabin atas oleh pramugara. Lagi-lagi para staf Arsip
Nasional Makassar mengelak. Akhirnya ada pilot turun tangan dan
mendekati 4 orang staf yang membawa tas besar, bersikeras untuk memangku
barang-barang berharga ini dan tidak meletakkannya di kabin. Pilotpun
mempersilahkan mereka, bagaimana kalau diletakkan di ruang VIP executive
pesawat yang biasa dipergunakan oleh pejabat. Dan sekali lagi para staf
Arsip ini menggelengkan kepala. Kami akan pegang benda-benda ini dan
memangkunya, katanya dengan tegas. Pilot terkejut mendengarnya. Anda
tahu bahwa naskah I La Galigo Bugis adalah masuk dalam warisan dunia
atau World Heritage yang sudah diakui resmi oleh UNESCO? Tegas mereka.
Pilot pun mengangguk membenarkan. Mereka yang sudah bertahun
mengelilingi dunia dan pengetahuan2nya tentang warisan dunia pasti sudah
paham akan hal ini. Kemudian pilot tersenyum sambil mengatakan “..oh
iya benar, silahkan kalau begitu. Saya paham bahwa naskah I La Galigo
adalah bagian dari warisan dunia yang telah diakui UNESCO. Kami memahami
itu”. Dan akhirnya ke empat staf Arsip Nasional Makassar ini yang
bertugas melindungi hidup-hidup warisan dunia yang sangat bernilai tak
terhingga, dari Makassar ke Yogyakarta.
Masih pada
saat yang sama di tempat yang berbeda sayapun beruntung menyaksikan
naskah-naskah kuno, kali ini adalah sahabat saya pak Amiq Ahyad yang
baru saja menuntaskan studinya tentang naskah kuno ala pesantren. Hampir
semua naskah yang beliau miliki berusia 150 tahun sehingga secara fisik
begitu rapuh. Bedanya dengan lontarak I La Galigo ini adalah naskah
kuno ala pesantren yang sudah mempergunakan teknologi kertas papyrus.
Naskah-naskah yang bermigrasi melalui para sesepuh kiai yang menempuh
studi di Timur Tengah inilah yang disebutkan sebagai “Manuskrip Islam
Pesantren” oleh kawan saya Dr. Amiq Ahyad. Bahagia kami di kampus
kemarin bertemu beliau dalam sebuah seminar yang mengungkap sejumlah
besar Manuskrip bertuliskan huruf Arab. Beliau mengatakan sebenarnya
mudah sekali menyimpan manuskrip tersebut di rumah, yaitu hanya dengan
diselipkan amplop kain berisi arang, atau kapur barus dan atau kayu
manis. Hanya itu saja, sangat sederhana. Memang akhirnya terdapat
perbedaan perawatan antara daun lontar dan kertas bermutu papyrus
semisal Manuskrip Islam ini. Namun kondisi lokasi geografis yang juga
mempengaruhi bagaimana perawatan sebuah manuskrip atau lontarak.
Seperti
misalnya kita ketahui bahwa naskah-naskah I La Galigo yang disimpan di
Musium Leiden tersebut diperlakukan dengan cukup hati-hati, dengan suhu
udara tertentu dan perlakuan yang cukup berhati-hati pula. Lontarak I La
Galigo adalah berbahan daun lontar yang tumbuh subur di daerah tropis
Sulawesi Selatan sehingga saat daun-daun tersebut dibawa ke daerah Eropa
maka perlakuan khusus pun diberlakukan. Setiap peneliti yang ingin
melihat dan menyentuhnya juga harus menuruti aturan-aturan yang telah
dibuat curator museum, seperti di Leiden Musium.
Sebuah
teks baru disebut manuskrip apabila sudah berusia lebih dari 50 tahun
dan bertuliskan tangan. Sekali pak Amiq menceritakan hampir tertipu oleh
sebuah naskah Al Qur’an yang dibawa oleh seorang cina muslim dari
daratan China. Setelah diteliti naskah atau mushaf Al Qur’an ini sangat
sempurna hingga berani menawarkan sejumlah besar pada mushaf kuno
tersebut. Namun Allah menghendaki lain, justru staf pak Amiq yang
melihat pada mushaf tersebut sebuah coretan spidol. Mana ada jaman dulu
spidol..olala!
Dan bagaimanapun juga, manuskrip Islam
dan lontarak I La Galigo tersebut adalah hasil karya manusia yang
menunjukkan sebuah peradaban tinggi saat lampau. Peradaban yang menjadi
petunjuk bagi kita saat ini untuk belajar, untuk memahami, dan informasi
yang kaya raya bahwa itulah budaya Indonesia yang adiluhung.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar