Rabu, 31 Desember 2014
Rumah Panggung
Rumah Panggung dan semacamnya tersebar di seluruh penjuru daerah di negara kita. Tak terkecuali dengan rumah Panggung di SULSEL. Rumah ini lah yang menjadi daya tarikku untuk datang kesana. Megah, Gagah dan Berwibawa. Itu kesan pertama saat saya tiba di bumi SULSEL. Tidak semua daerah di SULSEL berumah panggung. Beberapa daerah di SULSEL yang telah kudatangi, ternyata hanya Sidrap yang masih asli dengan keberadaan rumah Panggungnya. Terutama di Sidenreng.
Setelah beberapa kali bermalam di Galesong, sebuah daerah yang tidak terlalu jauh dari Makassar, masuk di kabupaten Takalar, saya lihat bahkan hanya tinggal satu dua, atau bisa dihitung dengan jari saja jumlah rumah-rumah berkonstruksi panggung ini. Dan di Makassar sendiri juga tidak lagi terlalu banyak rumah terbuat dari kayu penuh ini. Mungkin karena aspek efektif dan efisien, rumah ini ternyata lebih mahal dibuat dari pada rumah batu. Rumah batu adalah istilah bagi rumah dengan bahan batu bata.
Di Wajo, masih pula banyak yang menggunakan konstruksi rumah ini, meskipun sudah banyak rumah batu tersebar disana. Saya sempat ke Sabbang Paru, sebuah daerah yang sama kuno dan umurnya dengan daerah terkenal, Tosora. Sabbang Paru memiliki nilai historis yang identis dengan Tosora. Dua daerah bersejarah, terutama sejak berdengungnya pemerintahan berwibawa Sultan Hasanuddin. Dua daerah inilah sama-sama bahu membahu berjuang dan bergerak demi persatuang bangsa kita. Sehingga tak ayal lagi bisa ditemukan lokasi-lokasi kuno, rumah kuno, pohon-pohon kuno, sungai kuno dan kuno-kuno yang lain.
Berkunjung ke daerah ini tentu tak lepas dari rumah Panggung. Seperti sebuah rumah milik keluarga bapak Latief yang saat ini masih berdiri megah.
Rumah keluarga bapak Latief ini masih megah meski telah berumur tak kurang dari 50 tahun. Bapak Latief yang seorang perwira tentara yang dulu sempat menjaga Daerah Bone dari kelompok DI TII, telah menjadikan rumah ini sebagai pusat dari semua kegiatan dan juga komunitas keluarga. Terlihat dari posisi rumah tersebut, dulu nya daerah di sebelah kanan rumah tersebut adalah jalan yang cukup luas. Saat ini sudah dihuni banyak rumah bahkan ada Indomaret berdiri tepat di seberang jalan. Dahulu setiap orang selalu mengatakan rumah ini sebagai patokan. Misalnya di sebelah mananya rumah besar, kiri atau kanan. Rumah inilah patokannya, dengan sebutan rumah besar. Ini karena rumah ini terlihat paling besar dan paling megah di zamannya.
Rumah Panggung di Sidrap yang pernah beberapa waktu kudatangi juga megah. Meskipun tak sekokoh rumah bapak Latief. Saat saya tinggal semalam di rumah tersebut, saya merasakan sedikit bergoyang. Tadinya saya mengira ini adalah lindu (gempa berskala kecil). Beberapa kali saya berteriak saya kira gempa. Si empunya rumah sampai ketawa ketiwi karena melihat saya yang terperangah karena deg degan. Terasa seperti ada gempa loh.
Namun kesempatan yang emas bagi saya, saat itu si empunya rumah lagi mengadakan hajatan Ngunduh Mantu kalau istilah Jawa nya. Waktu itu anak menantu mereka datang yang kemudian diadakan acara syukuran. Hidangannya enak, ada gule daging, ayam dan sebagainya. Mereka juga menggelar semua lauk ditengah, dialasi dengan selembar panjang kain putih.
Kembali ke Wajo, rumah bapak Latief memang selalu mengiang-ngiang di telingaku juga impianku. Rumah itu betul-betul kental dengan sejarah meski tak setua sejarah Wajo. Ibu Latief yang tinggal di rumah tersebut berkali-kali diajak pulang oleh putra-putri beliau untuk tinggal di Makassar. Namun beliau dengan halus menolak. Ibu Latief lebih senang tinggal di rumah Panggung tua itu. Mungkin sang bunda ini begitu terkenang nostalgia bersama bapak yang tak kunjung padam. Pak Latief memang sangat hebat, disamping sebagai komandan Daerah Militer Bone, beliau adalah pekerja yang tekun dan ulung. Beliau pendiam tetapi terlihat dari kinerjanya yang sangat tangguh. Sempat pula beternak ayam potong, berladang, beternak kambing dan sapi. Semua pun dijalani oleh beliau sampai menjadi bapak Lurah Sabbang Paru pun dijalaninya dengan wibawa penuh. Saya sempat melihat foto beliau di ruang TV dan beberapa foto keluarga di album. Ibu Latief berkali-kali menceritaka dengan menyanjung bapak yang sangat mempesona. Saya sangat tertarik dan bangga dengan cerita ibu Latief.
Pelan-pelan kuinjak lantai kayu rumah Panggung yang kadang bergerak saat kupijak. Ada beberapa bila bilah kayu yang tertata agak terbelah, kurang begitu rapat. Sehingga pemandangan cukup terang kulihat dibawah sana yaitu di bangku lebar, bangku yang selalu ada bersanding dengan rumah Panggung. Dan ketika pelan-pelan kuintip ke bawah, mataku penasaran mengernyit siapa tiduran di bawah sana, astagah temen-temenku pada leyeh-leyeh memejamkan mata dengan perut terbuka.. yahahah
Rumah panggung selalu berhubungan erat denga yang namanya tangga, dan bermacam-macam jenis tangga ada dalam konstruksi rumah ini. Ada yang besar ada yang kecil. Tangga ini kadang dipakai narsis foto keluarga oleh cucu-cucu. Sehingga cucu-cucu bisa ngumpul dan dihitung, duduk di tangga ini. Di sebelah tangga tepat di bawah papan, diletakkan rak kecil. Mungkin disini bisa dipakai untuk menyimpan sepatu dan sandal dan kulihat memeang banyak sepatu disana.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar