Rabu, 31 Desember 2014

Berkarya Dalam Seserahan

Pernahkah anda membuat sesarahan untuk manten? Saya pernah. Tadinya belum pernah sama sekali bunda.. . Tetapi saya tak kurang akal. Saat ini dunia internet sudah sangat membahana. Tidak ada satupun yang tidak bisa kita temukan di internet. Termasuk yang satu ini, membuat seserahan manten. Tadinya saya hanya berpikir-pikir saja, gimana cara membuat seserahan yang cantik, apalagi dengan embel-embel waktu ‘mendadak’. Haduh..ini yang saya paling tidak suka, kata ‘mendadak’ itu. Apalagi yang bisa kutabrak kecuali si ‘mbah’ Google. Kemudian iseng aja kuketik kata-kata disana. Dan voila! Ternyata ada dan tidak terlalu sulit membuatnya. Segera kusiapkan bahan-bahannya. Ini memang instruksi dari mamaku untuk membuat seserahan buat adik bungsu yang sedianya akan melangsungkan pernikahan dalam jangka waktu yang cukup dekat. Segera kemudian kurangkai-rangkai semua bahan seserahan yang sudah dibeli oleh adik. Bahannya sangat mudah, hanya karet gelang, jarum pentul, bunga, pita dan rumput emas, beberapa kertas berbentuk daun terbuat dari kardus botol mineral. Di bawah ini akan saya tunjukkan foto-fotonya beserta instruksinya.
Siapkan daun dari kertas kardus bekas air mineral.
Daun dari kardus



Kemudian buat satu bungkus berisi kertas dengan kain seserahan, berbentuk bulat. Juga kertas berbentuk daun, bungkus dengan kain tersebut dan satukan dengan bulatan kain berisi kertas, akhiri dengan jarum pentul.



Selanjutnya atur bunga-bunga seserahan yang telah anda rangkai ke dalam keranjang seserahannya.



Hiasi dengan rumput emas.



Pemanfaatan bunga pada type seserahan yang lain, pada seserahan alat mandi, handuk dll
Seserahan



Untuk Al-Quran dan mukena, manfaatkan bunga-bunga bordir mukena dengan mengikatnya menjadi satu dan menjadi sebuah bunga, sisa nya bisa dibuat sebuah bunga lagi. Tetap gunakan karet gelang dan jarum pentul.

Manfaatkan isolasi untuk mengikat alat-alat kosmetik kemudian hias dengan bunga-bunga

Apa yang saya buat memang jauh dari sempurna dan lumayan sederhana. Namun mungkin bisa memberikan inspirasi pada keluarga. Hal-hal seperti ini bisa kita desain sendiri. Lebih mudah dan irit. Selamat mencoba say..

Menilik Rutin

Kunjungan dua mingguan sudah rutin kulakukan ke Ar Rifaie Gondang Legi, kunjungan ke putri sahabatku Rahman Manaba. Si kecil Hana berkacamata tebal yang masih duduk di kelas satu SMP di Ar Rifaie selalu menunggu-nunggu kedatanganku di tiap dua minggu sekali. Akupun tak tega kalau sampai nggak datang ke pesantren megah ini untuk menengok putri temanku itu. Maklum orang tua Hana tinggal di Balikpapan Kaltim sehingga sulit untuk bisa menjenguk putri pertama mereka tiap dua minggu tersebut. Dan saya mencoba untuk itu. Alhasil ini selalu jadi perjalanan panjang ku ke Gondang Legi dengan motor MX ku. Hitung-hitung sambil jalan-jalan menghirup udara segar kabupaten Malang di sebelah selatan yang masih banyak ditanami tebu di sepanjang pinggir jalan raya.
Si kecil Hana tak kusangka berbakat menulis. Sebulan lalu dia sempat bilang kalau sudah menulis di beberapa lembar dan beberapa buku selama ada waktu senggang di pesantren itu. Bakat menulisnya memang sudah tertempa sejak dia di Balikpapan dan itu menurun dari orangtuanya, Rahman Manaba yang juga penulis. Tak ragu-ragu Hanin panggilannya sempat menceritakan bahwa tulisannya sudah banyak. Tulisan-tulisan tentang remaja yang menjadi fokus tulisannya disaat umurnya yang masih belia. Hana banyak memiliki inspirasi yang entah kutau dari mana dia dapatkan. Kubayangkan saya sendiri yang sehari-hari hanya mengajar dan hiruk pikuk kehidupan kampus. Itulah kenapa sulit bagiku untuk menuangkan pikiran kepada tulisan terutama di websiteku Linguafranca. Namun beda bagi Hana. Ada beberapa lembar dan buku yang sedianya ingin dia berikan padaku untuk kubaca.
Saat itu hujan lebat dan sangat gelap. Air menggenang di teras ndalem (rumah) pak Kiai Zamachsari yang akrab dipanggil gus Mat. Tak sangka-sangka air sampai setinggi itu, padahal tepat di depan pesantren terdapat sungai yang cukup lebar dan dalam. Namun tetap tak bisa menampung air hujan sederas itu. Di kegelapan dan derasnya hujan kududuk merapat dengan Hana. Di depan kami tinggal beberapa sendok nasi capcay yang kubawa dari rumah dan dua potong roti yang kubuat sehari sebelumnya. Memang sudah hampir dingin.
Pelan dia bilang 'Bude ini tulisan Hana dibawa sama bude saja'
Saya pun sempat mengernyit mendengar dia berkata seperti itu. Kutanya kenapa.. dan dia menjawab '..biar disimpan sama bude aja, nanti kapan-kapan Hanin lanjutin'
Saya benar-benar tak menyangka itu terjadi. Kubilang lanjutin saja novelnya nanti bude buatin blog, dengan sedikit merayu Hana. Saya mencoba untuk memberikan motiovasi dia untuk menulis. Saya anggap Hana ini masih sangat terbuka lebar pikiran dan ide dibanding saya yang sudah umur seperti ini, kadang susah untuk dapatin itu.
Dan ternyata apa dia bilang! Beberapa tulisan-tulisan dia telah dirampas oleh ustadzahnya yang mengakibatkan dia menjadi stagnant dan malas untuk melanjutkan.
Hmm bagai tersengat rasanya. Bisakah hal-hal seperti ini menjadi perhatian para pendidik di lingkungan pesantren terutama. Menulis terutama bagi usia remaja bisa menjadi potensi yang luas. Baru ingat penulis idola saya Teh Pipiet Senja. Beliau baru menulis dan menghasilkan karya-karya apik setelah usia 40. Dan nama Pipiet Senja memang mewakilkan itu sebagai nama penanya. Tulisan-tulisannya begitu menginspirasi saya. Sedangkan Hana yang baru berusia 12 tahun saat ini seolah disekat inspirasinya.
Sedih sekali!
Buku-buku yang sudah berisi tulisannya kemudian kubawa pulang dan kuteliti bahasanya. Sedianya akan kubuatkan blog agar dia nanti bisa mengakses di pesantren dan menulis di blog tanpa ada kekhawatiran untuk dirampas. Jalan Hana untuk mengembangkan studi dan karirnya masih panjang, 6 tahun ke depan.

Teringat Sherin putri sahabatku Kartika Nuswantara di Surabaya, sejak TK dia sudah menulis cerpennya. Sherin sering ditinggal kedua orangtuanya yang sama-sama memiliki kesibukan mengajar. Sehingga dia lebih memilih hari-harinya di rumah dengan menulis. Kemudian dengan tangan dingin ayah Sherin, akhirnya bisa mengorbitkan tulisan putrinya yang masih sangat kecil tapi gemar menulis. Sehingga sekarang orang tua Sherin tinggal memupuk dan melanjutkan saja hobby putrinya tersebut. Saat ini bahkan orang tua Sherin sibuk menjadi presenter seminar karena keberhasilannya memotivasi putrinya untuk menulis.
Dan sepertinya Hana nanti akan seperti itu.
Hana..Ganbatte!


Menulis Adalah Terapi

Menulis Adalah Terapi
Teringat akan instruksi atasan saya, rektor Universitas Islam Negeri Malang memacu saya untuk selalu menulis. Entah tadinya saya anggap ungkapan beliau hanyalah suatu himbauan kosong, namun saat ini bahkan menjadi stigma positif bagi diri saya khususnya. Terinspirasi dengan cara-cara beliau menerjemahkan ide ke dalam sebuah artikel, sayapun berusaha mengikuti cara-cara ini  bahwa apa yang kita lihat dan kita rasakan juga pengalaman-pengalaman adalah inspirasi terbaik untuk mengekspresikan diri ke dalam tulisan.

Dulu banyak tulisan-tulisan yang ingin saya masukkan ke berbagai media. Sebelum ada wadah blog seperti sekarang ini kita harus rela mengantri dan bahkan tidak diterima oleh media karena harus berkompetisi dengan tulisan-tulisan lain. Dulu hanya media cetak yang bisa menampung tulisan-tulisan kita. Namun sekarang saat booming dunia netter dan blogger, para penulis semakin menggeliat dan menunjukkan eksistensinya.

Begitu pula dengan saya yang juga disibukkan dengan kegiatan akademis, dan juga mengembangkan hobi sebagai blogger. Tulisan-tulisan saya yang sempat mengendap di flashdisk dan laptop saat ini sudah saya coba untuk share di website pribadi.

Sebagai seorang ibu seringkali justru disibukkan dengan urusan domestik. Dari sejak pagi setelah sholat shubuh mempersiapkan keperluan anak sekolah, sarapan dan seragam mereka sampai berangkat. Waktu luang hanya saat mereka sudah selesai mengerjakan PR. Itupun kadang kita  sudah lelah. Malam menjelang tidurlah saat yang paling cocok untuk menulis. Teringat pesan atasan saya, rektor UIN Malang untuk selalu menulis kapanpun itu. Beliau selalu menyempatkan diri disaat pagi agar menulis minimal 2-3 tulisan dan menguploadnya ke dalam website. Sehingga dalam satu tahun bisa terkumpul kurang lebih 300 tulisan. Sungguh suatu prestasi yang luar biasa dan patut ditiru.
Sharing pengalaman dengan memanfaatkan blog dengan tema berbeda saat ini adalah salah satu bagian dari aktifitas blogging saya. Ada 5 blog yang saya kelola berdasarkan tema yang berbeda. Misalnya salah satu blog saya adalah tentang trik dan tips sehat mempersiapkan hidangan sehat untuk keluarga. Saya yakin semua wanita Indonesia memiliki resep-resep favorit keluarga sehingga saya hadirkan dalam blog keluarga Apel Batu saya adalah tips dan triks mempersiapkan hidangan terbaik untuk keluarga. Begitu pula dengan website pribadi saya Lingua Franca yang mencerminkan keingintahuan saya terhadap budaya Indonesia populer.

Kata Bugis atau Makassar seolah-olah seperti energi yang diberikan oleh Tuhan kepada saya untuk menulis. Ada puisi, ada budaya, ada pula sejarah. Kedekatan saya terhadap mahasiswa dan teman-teman asal SULSEL ini cukup menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis. Sehingga ada puluhan tulisan di website pribadi saya diantara 120 yang ada, yaitu tulisan-tulisan mengenai interaksi saya dengan mereka. Tulisan saya lainnya adalah mengenai informasi dan laporan pandangan mata tentang kota Malang, kota dimana saya tinggal. Kota ini benar-benar tak habis-habis memberikan inspirasi untuk menulis. Terutama karena banyaknya candi-candi dan situs yang tersebar di bermacam tempat.
Beberapa lomba blog yang saya ikuti ternyata menjadi cambuk kepada saya untuk tetap menulis dan mencurahkan inspirasi yang telah didapat. Ada tulisan saya yang mengkritik salah satu lomba blog dimana pemenangnya adalah orang-orang yang sama. Seperti ada unsur nepotisme disana. Walhasil tulisan ini menyebabkan derasnya virus hacker dan spamer yang datang bertubi2 ke dalam website saya. Meskipun sempat sedikit kelabakan dan down karena saya yang tidak begitu paham dengan spamer dan hacker maka ini adalah bahan bagi tulisan saya selanjutnya. Belum lagi puluhan email yang ditujukan kepada saya yang mengecam tidak menyurutkan keinginan saya untuk menulis. Artinya dengan menuliskan sebuah akibat dari sebab yang ada, maka tulisan yang baru adalah sebagai terapi. Setelah mengklik publish di dashbor, hati terasa lega dan ringan.

Maka apa yang bunda simpan di dalam hati, di dalam otak, tuangkanlah dalam bentuk tulisan. Dan tulisan adalah sebagai ajang untuk mengekspresikan diri, menuangkan inspirasi dalam bentuk tertulis seperti artikel dan karya seni misalnya puisi, prosa dan novel. Kesemuanya itu begitu melegakan setelah tulisan tersebut dibaca oleh netter. Maka sebenarnya, menulis adalah terapi.

Semangat bunda.. :D

Upside Down

Sebuah film unik kulihat semalam, Upside Down.  Film dengan konsep berbeda dan kebetulan nggak kenal pemerannya semua. Atau emang saya yang kurang rajin ngikutin perjalanan film-film hebat di layar kaca maupun lebar. Namun film ini sungguh dahsyat, kuacungi jempol empat. Konsepnya sangat beda. Agak ingat-ingat startrek sebenarnya. Karena lokasinya seolah di angkasa luar, gelap dan berlampu-lampu. Namun ini bukan di angkasa luar. Ini bahkan di lokasi yang tak pernah kubayangkan, dunia atas dan bawah, dunia yang saling berhadapan.
Adalah seorang pemuda yang berasal dari dunia bawah Adam Kirk, bertemu seorang gadis dari dunia atas. Mereka adalah teman kecil yang dulu suka bertemu di pegunungan yang menghubungkan antara dua dunia berbeda gravitasi ini Eden More. Keduanya dipertemukan di situasi yang cukup sulit. Adam memerlukan teknologi dimana gravitasi sudah bukan masalah lagi bagi mereka untuk bertemu. Awalnya dia harus memakai magnit berat dalam tubuhnya agar kakinya bisa menginjak dan berjalan di dunia atas. Namun lama-lama semakin susah karena alat tersebut hanya bertahan 1 jam sehingga dia sering menjadi buronan polisi dunia atas.
Keinginannya hanya satu, bertemu Eden kekasihnya.
Sebenarnya saya kurang setuju dengan pemeran Eden, kurang cantik. Hehe. Namn itu ukuran saya, beda dengan ukuran bule, mungkin sudah cantik. Hal ini karena pemeran Adam Kirk lumayan tampan dan cute.
Saat memperhatikan film ini saya benar-benar takjub kenapa bisa ide konsep seperti ini muncul. Betapa briliannya sutradara Upside Down. Saat melihat Star Trek The Next Generation saya sudah bisa menangkap tipuan-tipuan berupa animasi. Namn dengan membuat dua setting atas dan bawah, saya jadi berpikir panjang yang tidak habis-habis kapan selesainya ini.
Dan semua menjadi mungkin saat seorang sutradara menciptakan cerita meskipun jadi seperti impossible tapi terjadi jugak. Mengapa impossible..? Kadang saya bingung juga apa karena disortir oleh badan sensor, itu tau-tau si Eden jadi hamil. Kembar lage! Dwoh
Awalnya mereka bertemu di bebatuan berbentuk huruf C sehingga gravitasi dunia atas, dunia si Eden tidak bisa menarik dia ke atas karena tertahan batu, sebaliknya Adam Kirk yang berasal dari dunia bawah memposisikan dirinya agar bisa menyentuh Eden tanpa harus naik dekat ke Eden, nahloh bingung kan.
Namun hal itu menjadi point penting saya karena itu adalah saat mereka ciuman. Posisinya jadi membingungkan gitu.
Pendek kata, ini film heboh dan paling brillian yang pernah kulihat. Situasi gelap menjadikan film ini menjadi sedikit bernuansa klasik namun futuristik.
Silahkan browsing filmnya..ehehe

World Heritage

Apa sebenarnya yang selalu didengung-dengungkan orang mengenai World Heritage? Banyak pula yang ingin mengklaim bahwa sesuatu itu adalah warisan dunia. Ada world heritage yang diumumkan secara resmi oleh UNESCO seperti contoh Lontara Galigo yang akan saya paparkan di bawah ini. Sayapun sebenarnya belum lama mendengar istilah ini, bahkan mendengarnya pun baru akhir-akhir ini. Namun kemudian setelah beberapa kali saya baca di internet dan di pementasan dan pameran, saya menjadi penasaran terutama tentang sebuah manuskrip berjudul I La Galigo. Manuskrip yang kabarnya melebihi panjang cerita Mahabarata dan Ramayana. I La Galigo naskahnya ditulis pada lembar demi lembar daun lontar. Lontar inilah kertas karya pertama dan teknologi perdana penulisan di daratan SULSEL. Daun lontar benar-benar membawa informasi yang cukup penting pada pembacanyanya saat itu, karena daun lontar lah para penulis-penulis kreatif purba menciptakan sebuah epos tanpa batas yang bias dinikmati oleh semua orang saat ini. Hurufnya pun demikian, Lontarak disebutnya. Manuskrip I La Galigo yang menceritakan kehidupan romansa Sawerigading dan We Cudai tersebut berdurasi cukup panjang hingga ibu Nurhayati Rahman baru menginterpretasikan sekelumit dari ribuan lembar lontar bertema cinta itu, itupun belum selesai. Masih ada ribuan lembar lagi yang belum diotak-atik oleh beliau.
Daun lontar yang sangat terkenal ini telah dipergunakan ratusan tahun oleh para author kisah epos ternama. Struktur daun inilah yang mampu merekam ribuan kalimat kisah epos I La Galigo. Daun lontar sebagai bagian dari teknologi kertas pertama di bumi Sulsel memiliki karakteristik unik karena bisa berumur panjang. Meski tak sesempurna kertas di zaman sekarang, daun lontar ini telah banyak berjasa saat itu. Keahlian para sastrawan Sulawesi untuk mengolah kata menjadi sebuah epos terhebat tersebut sepertinya telah menginspirasi para penulis penulis masa kini asal Sulsel. Tak heran kebanyakan sahabat-sahabatku asal Sulsel adalah penulis kreatif yang tak habis-habis berkarya. Ternyata memang I La Galigo inilah yang telah mengawalinya.
Beberapa kisah lanjut setelah I Lagaligo diinterpretasikan kemudian menyelimuti perjalanan dikenalnya Epos ini sebagai World Heritage atau salah satu warisan dunia. Beberapa waktu lalu diadakan pameran Naskah Nasional, daun lontar yang bertuliskan huruf-huruf lontarak di Yogyakarta. Beberapa kisah unik mewarnai pelaksanaan pameran tersebut. Naskah yang berumur cukup lama ini memang ribet memindahnya dari gedung Arsip Nasional Makassar menuju Yogyakarta. Ada 12 orang yang mengawal berpeti-peti naskah lontarak yang berisikan tidak hanya bagian dari epos, namun juga berisi tentang resep-resep obat/jamu, kehidupan bermasyarakat, peraturan-peraturan pemerintahan di masa lampau dan lain-lain. Peti berisi naskah-naskah tersebut dijaga dan dibawa dengan cukup hati-hati oleh 4 staf, 1 polisi, 3 satpam, dan 6 pejabat arsip nasional. Benar-benar satu usaha yang cukup berat. Setibanya di bandara bisa dibayangkan kenapa mereka membawa polisi dan satpam untuk mengamankan barang-barang berharga ini. Nah kalau tau-tau ada huru hara, lalu menyerang, bagaimana coba? Tapi syukurlah saat memindahkan naskah-naskah tersebut dari Makassar ke Yogyakarta dan sebaliknya tidak terlalu merepotkan. Namun saat check in sempat ditanya dan diperintahkan untuk dibagasikan ke empat tas-tas besar tersebut.
Apa yang terjadi saat petugas bandara menyarankan untuk memasukkan tas-tas tersebut ke dalam bagasi? Sudah jelas para staf arsip nasional Makassar mengelak. Mereka bilang mending kami yang masuk bagasi dari pada naskah ini yang disimpan disana. Petugas bandara Sultan Hasanuddin pun mengernyit. Sesampai di dalam pesawatpun masih disarankan untuk diletakkan di kabin atas oleh pramugara. Lagi-lagi para staf Arsip Nasional Makassar mengelak. Akhirnya ada pilot turun tangan dan mendekati 4 orang staf yang membawa tas besar, bersikeras untuk memangku barang-barang berharga ini dan tidak meletakkannya di kabin. Pilotpun mempersilahkan mereka, bagaimana kalau diletakkan di ruang VIP executive pesawat yang biasa dipergunakan oleh pejabat. Dan sekali lagi para staf Arsip ini menggelengkan kepala. Kami akan pegang benda-benda ini dan memangkunya, katanya dengan tegas. Pilot terkejut mendengarnya. Anda tahu bahwa naskah I La Galigo Bugis adalah masuk dalam warisan dunia atau World Heritage yang sudah diakui resmi oleh UNESCO? Tegas mereka. Pilot pun mengangguk membenarkan. Mereka yang sudah bertahun mengelilingi dunia dan pengetahuan2nya tentang warisan dunia pasti sudah paham akan hal ini. Kemudian pilot tersenyum sambil mengatakan “..oh iya benar, silahkan kalau begitu. Saya paham bahwa naskah I La Galigo adalah bagian dari warisan dunia yang telah diakui UNESCO. Kami memahami itu”. Dan akhirnya ke empat staf Arsip Nasional Makassar ini yang bertugas melindungi hidup-hidup warisan dunia yang sangat bernilai tak terhingga, dari Makassar ke Yogyakarta.
Masih pada saat yang sama di tempat yang berbeda sayapun beruntung menyaksikan naskah-naskah kuno, kali ini adalah sahabat saya pak Amiq Ahyad yang baru saja menuntaskan studinya tentang naskah kuno ala pesantren. Hampir semua naskah yang beliau miliki berusia 150 tahun sehingga secara fisik begitu rapuh. Bedanya dengan lontarak I La Galigo ini adalah naskah kuno ala pesantren yang sudah mempergunakan teknologi kertas papyrus. Naskah-naskah yang bermigrasi melalui para sesepuh kiai yang menempuh studi di Timur Tengah inilah yang disebutkan sebagai “Manuskrip Islam Pesantren” oleh kawan saya Dr. Amiq Ahyad. Bahagia kami di kampus kemarin bertemu beliau dalam sebuah seminar yang mengungkap sejumlah besar Manuskrip bertuliskan huruf Arab. Beliau mengatakan sebenarnya mudah sekali menyimpan manuskrip tersebut di rumah, yaitu hanya dengan diselipkan amplop kain berisi arang, atau kapur barus dan atau kayu manis. Hanya itu saja, sangat sederhana. Memang akhirnya terdapat perbedaan perawatan antara daun lontar dan kertas bermutu papyrus semisal Manuskrip Islam ini. Namun kondisi lokasi geografis yang juga mempengaruhi bagaimana perawatan sebuah manuskrip atau lontarak.
Seperti misalnya kita ketahui bahwa naskah-naskah I La Galigo yang disimpan di Musium Leiden tersebut diperlakukan dengan cukup hati-hati, dengan suhu udara tertentu dan perlakuan yang cukup berhati-hati pula. Lontarak I La Galigo adalah berbahan daun lontar yang tumbuh subur di daerah tropis Sulawesi Selatan sehingga saat daun-daun tersebut dibawa ke daerah Eropa maka perlakuan khusus pun diberlakukan. Setiap peneliti yang ingin melihat dan menyentuhnya juga harus menuruti aturan-aturan yang telah dibuat curator museum, seperti di Leiden Musium.
Sebuah teks baru disebut manuskrip apabila sudah berusia lebih dari 50 tahun dan bertuliskan tangan. Sekali pak Amiq menceritakan hampir tertipu oleh sebuah naskah Al Qur’an yang dibawa oleh seorang cina muslim dari daratan China. Setelah diteliti naskah atau mushaf Al Qur’an ini sangat sempurna hingga berani menawarkan sejumlah besar pada mushaf kuno tersebut. Namun Allah menghendaki lain, justru staf pak Amiq yang melihat pada mushaf tersebut sebuah coretan spidol. Mana ada jaman dulu spidol..olala!
Dan bagaimanapun juga, manuskrip Islam dan lontarak I La Galigo tersebut adalah hasil karya manusia yang menunjukkan sebuah peradaban tinggi saat lampau. Peradaban yang menjadi petunjuk bagi kita saat ini untuk belajar, untuk memahami, dan informasi yang kaya raya bahwa itulah budaya Indonesia yang adiluhung.


Kucing-kucing Jalanan

Ada sebelas kucing suka nongkrong di depan rumah. Eitts jangan salah, mereka bukan kucingku, tapi juga bukan kucing garong. Mereka hanya kucing jalanan sehingga tidak satupun diantara kesebelasnya memiliki nama resmi.  Sehingga kadang kita di rumah memanggilnya hanya dengan kondisi fisiknya. si telon (berbulu tiga warna), si putih, si kuning, si keple. Si keple itu kucing betina yang jalannya agak terseok.
Diantara ke 11 kucing itu yang kutau hanya ada 2 yang betina, si telon sama si keple. Mungkin karena daya tarik si telon yang lumayan menarik, nggak tau menarik dari sudut pandang perkucingan atau gimana, si telon ini banyak dikejar-kejar oleh 9 kucing jantan yang lain. Yang cukup intensif mengejar si telon adalah si putih dan si kuning. Dua kucing jantan ini bertubuh besar banget hampir seukuran cempe. Aku juga gak tau siapa pemilik dua kucing  super ini. Dari yang kulihat kucing-kucing ini seperti dipelihara bener-bener sama pemiliknya.
Na si telon ini emang bener-bener bikin kedua kucing-kucing jantan ini klepek-klepek. Mereka setiap hari berebut dan bertengkar. Eantah antar dua jantan, atau malah pertengkaran yang melibatkan cinta segitiga. Ciyeh..u
Si telon juga nggak akan grusa-grusu memilih mana yang mana yang akan menjadi kekasihnya, secara dia akan memilih bibit bebet dan bobot. Itulah kenapa dua kucing jantan yang gede ini pada kepingin menarik perhatian si telon, mereka hampir tiap hari datang ngapel si telon. Kadang malah membawa buah tangan, kadang ikan asin, pindang, kerupuk udang, dan atau tulang ayam. Entah darimana mereka dapatin berbagai cinderamata itu. Tapi yang jelas hal ini membuat si telon bingung, mau milih oleh-oleh yang mana. Lah abis dibawaainnya bermacam-macam rasa, kari ayam, bakso, udang dan sapi lada hitam. Kayak mi instan aja.
Si kuning dan si jantan nggak mau tau, yang penting kekasihnya bahagia. Nah karena si telon hanya memilih satu, dia akan melihat performance dua kucing gede ini sekaligus dengan bawaaannya. Akhirnya keputusan si telon jatuh ke si kuning. Dua kucing jantan ini sama besarnya tapi buntut si kuning suka mengembang seperti bulu kucing anggora, sehingga si telon lebih memilih si kuning yang jauh lebih menarik dan suka ngobrak-abrik tempat sampah untuk dapatin oleh-oleh buat si telon.
Nah setelah pilih-pilih memang pilihan jatuh pada si kuning. Si kuninglah yang setiap kali nungguin si telon, duduk-duduk santai di bawah pohon pisang. Mungkin mereka bercengkerama, terdengar dari ekspresinya. Mereka saling pandang dan kadang nyakar. Wah..nyakar??
Mbuh wes kemana arah hubungan perkucingan ini. Nah salahnya lagi, kenapa aku memperhatikan kucing-kucing itu ya?
!@#$%^&**)(

Bahasa Arema

Pernahkah anda bercakap-cakap dengan orang Malang? Arema? Inilah fenomena yang muncul selama berpuluh-puluh tahun berbahasa di kota Malang. Tadinya kita sebagai warga asli kota Malang tak pernah menyadari bahwa bahasa yang kita pergunakan sehari-hari adalah sebuah rekayasa linguistics genealogy antropology dan sociolinguistics non contemporer. Nah loh..bribet kan!
Saya juga bingung membayangkannya.
Namun inilah kenyataannya. Bahasa Malang Walikan atau bahasa Arema sangat unik. Disebut unik karena kosakatanya yang tidak lazim. Dan kemungkinan besar tidak akan diikut sertakan dalam daftar kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Bahasa Malang Walikan atau boso Arema ini memiliki struktur dibalik atau vice versa, dibalik dari belakang ke depan. Namun demikian tidak semua huruf-huruf pada kosakata standard bisa dibalik dari belakang ke depan. Hal ini disebabkan karena munculnya dua diftong atau dua vowel yang tidak memungkinkan dibalik secara berurutan. Contohnya akan saya sebut dibawah ini.
Apa sebenarnya yang terjadi saat zaman lampau, zaman penjajahan, Belanda, Jepang dan lain2..? Di Malang saat itu para pemuda bergerilya, mereka bahu membahu membawa bamboo runcing menantang penjajah. Nah Belanda yang licik benar-benar menguasai budaya, bahasa dan adat di kota Malang. Mereka begitu menguasai bahasa di kota Malang hingga kemudian warga Malang mulai membiasakan diri untuk mengungkapkan bahasa-bahasa rahasia, Bahasa Malang Walikan.
Bahasa yang diduga dipergunakan oleh para gerilyawan di kota Malang ini banyak dipakai para pelajar saat itu. Salah satu perang yang paling dahsyat terjadi di jalan Ijen di depan gereja Besar Ijen, perang yang banyak mengorbankan para pelajar itu kemudian mentahbiskan sebuah jalan tepat di perempatan Gereja Besar Ijen, sehingga jalan tersebut dinamakan Jalan Pahlawan TRIP. Kependekan dari Tentara Republik Indonesia Pelajar.
Bahasa Malang Walikan ini secara kontinyu kemudian menjadi bahasa anak muda sehari-hari di kota Malang. Namun kemudian karena banyak sekali penggunanya dari tahun ke tahun penggunanya menjadi dari seluruh kalangan, anak-anak muda usia minimal SMP atau SMU, usia dewasa dari mahasiswa hingga orang tua pun banyak menggunakan bahasa Malang Walikan.
Namun demikian bahasa khusus ini memang dianggap informal, jadi hanya digunakan pada saat-saat non formal. Misalnya saat guyon, bercanda, ngobrol sesame teman, antara penjual dan pembeli, dengan orang yang sudah lama kenal dan lama tidak bertemu, dengan sesame warga Malang / Arema saat bertemu di luar kota Malang atau di luar negeri dll. Saat-saat formal bahasa ini tidak pernah dipergunakan.  Dan jangan sampai dipergunakan, nanti bisa jadi lawakan kalau salah tempat.
Mungkin tidak semua kosakata bahasa Malang Walikan akan saya bahas disini karena jumlahnya ada ribuan. Bisa penuh blog ini nanti. Heheh..
-         Rudit = tidur
-         Nakam = makan
-         Ngalup = pulang
-         Orang = gnaro
-         Lanang (laki-laki) = nganal
-         Wedok (perempuan) = kodhe
-         Rumah = hamur
-         Melok (ikutan) = kolem
-         Ebes (ayah) = sebe
-         Raijo (uang ‘madura’) = ojir
-         Mlaku (jalan-jalan) = uklam
-         Sekolah = halokes
-         Kathok (CD) = kothak
-         Metu (keluar) = utem
-         Mobil = libom
-         Malang = ngalam
-         Sikil (kaki) = likis
-         Sego (nasi) = oges
-         Goreng = ngerog
-         Pecel = lecep
SIngo (singa) = ongis
Edan (gila) = nade
-         Tahu = uhat

Rumah Panggung


Rumah Panggung dan semacamnya tersebar di seluruh penjuru daerah di negara kita. Tak terkecuali dengan rumah Panggung di SULSEL. Rumah ini lah yang menjadi daya tarikku untuk datang kesana. Megah, Gagah dan Berwibawa. Itu kesan pertama saat saya tiba di bumi SULSEL. Tidak semua daerah di SULSEL berumah panggung. Beberapa daerah di SULSEL yang telah kudatangi, ternyata hanya Sidrap yang masih asli dengan keberadaan rumah Panggungnya. Terutama di Sidenreng.
Setelah beberapa kali bermalam di Galesong, sebuah daerah yang tidak terlalu jauh dari Makassar, masuk di kabupaten Takalar, saya lihat bahkan hanya tinggal satu dua, atau bisa dihitung dengan jari saja jumlah rumah-rumah berkonstruksi panggung ini. Dan di Makassar sendiri juga tidak lagi terlalu banyak rumah terbuat dari kayu penuh ini. Mungkin karena aspek efektif dan efisien, rumah ini ternyata lebih mahal dibuat dari pada rumah batu. Rumah batu adalah istilah bagi rumah dengan bahan batu bata.
Di Wajo, masih pula banyak yang menggunakan konstruksi rumah ini, meskipun sudah banyak rumah batu tersebar disana. Saya sempat ke Sabbang Paru, sebuah daerah yang sama kuno dan umurnya dengan daerah terkenal, Tosora. Sabbang Paru memiliki nilai historis yang identis dengan Tosora. Dua daerah bersejarah, terutama sejak berdengungnya pemerintahan berwibawa Sultan Hasanuddin. Dua daerah inilah sama-sama bahu membahu berjuang dan bergerak demi persatuang bangsa kita. Sehingga tak ayal lagi bisa ditemukan lokasi-lokasi kuno, rumah kuno, pohon-pohon kuno, sungai kuno dan kuno-kuno yang lain.
Berkunjung ke daerah ini tentu tak lepas dari rumah Panggung. Seperti sebuah rumah milik keluarga bapak Latief yang saat ini masih berdiri megah.
Rumah keluarga bapak Latief ini masih megah meski telah berumur tak kurang dari 50 tahun. Bapak Latief yang seorang perwira tentara yang dulu sempat menjaga Daerah Bone dari kelompok DI TII, telah menjadikan rumah ini sebagai pusat dari semua kegiatan dan juga komunitas keluarga. Terlihat dari posisi rumah tersebut, dulu nya daerah di sebelah kanan rumah tersebut adalah jalan yang cukup luas. Saat ini sudah dihuni banyak rumah bahkan ada Indomaret berdiri tepat di seberang jalan. Dahulu setiap orang selalu mengatakan rumah ini sebagai patokan. Misalnya di sebelah mananya rumah besar, kiri atau kanan. Rumah inilah patokannya, dengan sebutan rumah besar. Ini karena rumah ini terlihat paling besar dan paling megah di zamannya. 
Rumah Panggung di Sidrap yang pernah beberapa waktu kudatangi juga megah. Meskipun tak sekokoh rumah bapak Latief. Saat saya tinggal semalam di rumah tersebut, saya merasakan sedikit bergoyang. Tadinya saya mengira ini adalah lindu (gempa berskala kecil). Beberapa kali saya berteriak saya kira gempa. Si empunya rumah sampai ketawa ketiwi karena melihat saya yang terperangah karena deg degan. Terasa seperti ada gempa loh.
Namun kesempatan yang emas bagi saya, saat itu si empunya rumah lagi mengadakan hajatan Ngunduh Mantu kalau istilah Jawa nya. Waktu itu anak menantu mereka datang yang kemudian diadakan acara syukuran. Hidangannya enak, ada gule daging, ayam dan sebagainya. Mereka juga menggelar semua lauk ditengah, dialasi dengan selembar panjang kain putih.
Kembali ke Wajo, rumah bapak Latief memang selalu mengiang-ngiang di telingaku juga impianku. Rumah itu betul-betul kental dengan sejarah meski tak setua sejarah Wajo. Ibu Latief yang tinggal di rumah tersebut berkali-kali diajak pulang oleh putra-putri beliau untuk tinggal di Makassar. Namun beliau dengan halus menolak. Ibu Latief lebih senang tinggal di rumah Panggung tua itu. Mungkin sang bunda ini begitu terkenang nostalgia bersama bapak yang tak kunjung padam. Pak Latief memang sangat hebat, disamping sebagai komandan Daerah Militer Bone, beliau adalah pekerja yang tekun dan ulung. Beliau pendiam tetapi terlihat dari kinerjanya yang sangat tangguh. Sempat pula beternak ayam potong, berladang, beternak kambing dan sapi. Semua pun dijalani oleh beliau sampai menjadi bapak Lurah Sabbang Paru pun dijalaninya dengan wibawa penuh. Saya sempat melihat foto beliau di ruang TV dan beberapa foto keluarga di album. Ibu Latief berkali-kali menceritaka dengan menyanjung bapak yang sangat mempesona. Saya sangat tertarik dan bangga dengan cerita ibu Latief.
Pelan-pelan kuinjak lantai kayu rumah Panggung yang kadang bergerak saat kupijak. Ada beberapa bila bilah kayu yang tertata agak terbelah, kurang begitu rapat. Sehingga pemandangan cukup terang kulihat dibawah sana yaitu di bangku lebar, bangku yang selalu ada bersanding dengan rumah Panggung. Dan ketika pelan-pelan kuintip ke bawah, mataku penasaran mengernyit siapa tiduran di bawah sana, astagah temen-temenku pada leyeh-leyeh memejamkan mata dengan perut terbuka.. yahahah
Rumah panggung selalu berhubungan erat denga yang namanya tangga, dan bermacam-macam jenis tangga ada dalam konstruksi rumah ini. Ada yang besar ada yang kecil. Tangga ini kadang dipakai narsis foto keluarga oleh cucu-cucu. Sehingga cucu-cucu bisa ngumpul dan dihitung, duduk di tangga ini. Di sebelah tangga tepat di bawah papan, diletakkan rak kecil. Mungkin disini bisa dipakai untuk menyimpan sepatu dan sandal dan kulihat memeang banyak sepatu disana.



AirAsia Ku

Maklumlah kenapa setiap akan menggunakan pesawat terbang sebagai salah satu kendaraan paling speedy orang akan was-was. Kalau bis mogok karena kehabisan bensin atau ban meletus akan minggir, kalau kereta api paling-paling karena keluar dari rel atau pengguna jalan yang memanfaatkan rel, mobil dan motor juga bernasib sama dengan bis. Nah kalau pesawat terbang? Mau minggir kemana..
Parkir di gunung tertinggi?
Mungkin namanya bukan parkir, itu nangkring.
Semua doa seolah dibaca oleh para penumpang pesawat, tak luput sayapun nggak habis-habis bergumam, baik di ruang tunggu bandara, ruang check in, kecuali toilet. Masak di toilet doa..!
Bahkan saat duduk di kursi pesawat pun saya sudah nggak menggubris mbak2 cantik Air Asia, kalau Lion kurang cakep, Sriwijaya lumayan. Mereka pada body language nunjukin pelampung pesawat yang ada di bawah kursi. Dan sempat-sempatnya temen gw sms gimana cara ngembat pelampung yang notabene bagus buat dipake di Swembath (kolam renang belakang MOG). Dwoh..masih sempat-sempatnya mikirin ngembat pelampung, keselamatan diri ini belum tentu juga. Semua hanya Allah yang Maha Tau.
Tapi entah kalau disuruh selfie koq ya maju yah.. brikikik
Ini foto ku saat di AirAsia setahun lalu. Aman-aman aja. Pramugarinya cakep, Pilotnya namanya Samsul. Nggak tau cakep atau enggak, orang Pilotnya sembunyi aja, cuma terdengar halo-halo doank.
Maaf iseng malem-malem. Abaikan modelnya..eheh